Senin, 11 November 2013

02.SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PADA ATM\BANK


v   

   SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PADA ATM/BANK         

                         Sistem informasi berbasis IT merupakan kebutuhan primer di era modern apa lagi sudah menjadi kebutuhan yang harus di penuhi pada perusahaan-perusahaan. Dengan informasi yang begitu banyak, dibutuhkan sistem informasi menejemen yang terstruktur dengan baik dan diolah dengan profesional. Diperlukan sistem yang baik dalam mengolah informasi pada suatu organisasi informasi dan bank. Karena pengolahan informasi sangat mempengaruhi hasil kerja, kemampuan dan efisiensi perusahaan atau bank. Dengan demikian munculnya menejemen resiko informasi yang merupakan sesuatu yang harus di hindarkan atau di jaga agar resiko yang menyebabkan kerugian dapat terhindar. Contohnya adalah keamanan, distribusi, penyimpanan dan mengelolah informasi.
Keamanan sistem informasi pada bank merupakan hal yang utama. Dikarenakan informasi nasabah. Adalah informasi yanh harus dilindungi bank dari penjahat. Apabila sistem informasi di kuasai oleh penjahat tersebut maka bank akan mengalami ancaman kebangkrutan serta merugikan nasabah. Pada bank, penjahat/hacker terdapat sasaran yang dapat mengancam bank dan menjadi sebuah resiko menejemen resiko, yaitu : data, sistem aplikasi, pengetahuan teknologi, fasilitas yang dimiliki bank, nasabah..
RESIKO DATA
Data merupakan sasaran utama yang dimanfaatkan pelaku kejahatan/hacker untuk mendapatkan informasi mengenai nasabah. Oleh sebab itu pelindungan data sangat di butuhkan oleh bank dengan cara enkripsi – enkripsi data tersebut.misalnya pada ATMdimana pejahat melakukan penyadapan nomor PIN dengan cara mengakses data yang sudah disimpan sebelumnya pada mesin ATM dan sebelum itu melakukan pembobolan terhadap server yang tersambung dengan komputer mesin ATM,
RESIKO SYSTEM APLIKASI
Sistem aplikasi merupakan sistem software aplikasi yang digunakan oleh bank dalam memberi fasilitas pada nasabah. Layanan yang dapat dilakukan oleh nasabah adalah transaksi. Disamping itu aplikasi dalam melayani nasabah. Dibutuhkan pula aplikasi keamanan data/informasi. Sehingga sistem aplikasi tidak mendapatkan bug/error yang dapat dimanfaatkan oleh hacker untuk masuk kesistem perbankan tersebut. Dan dapat mengambil informasi dari bank.
RESIKO TEKNOLOGI
Teknologi sangat berpengaruh terhadap sistem aplikasi komputer yang digunakan oleh bank. Oleh sebab itu diperlukan teknologi yang dapat memberi keamanan sehingga terhindar dari tindakan kejahatan. Teknologi yang lama akan mudah dipelajari oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Selain itu dibutuhkan teknologi pendukung seperti kameradan mesin ATM yang memiliki sistem keamanan yang baik. selain itu mesin ATM juga harus sudah mempunyai standar internasional / ISO dan mendapatkan sertifikasi ISO.
RESIKO FASILITAS
Fasilitas yang didapatkan nasabah sudah dapat bekerja dengan baik. nasabah dapat memahami fasilitas transaksi dan mengambil uang dengan nyaman. Diperlukan juga teknisi yang handal dalam memberi pengaturan terhadap fasilitas yang diberi oleh bank.
RESIKO NASABAH
Pihak bank juga perlu memberi informasi mengenai cara agar tabungan nasabah tidak di bobol oleh penjahat. Seperti
Menjaga kerahasiaan PIN
Memperhatikan Kondisi fisik ATM
Menggunakan kartu ATM pada merchant yang bekerja sama dengan pihak perbangkan.
Apabila terjadi alat yang mencurigakan yang tersambung kepada ATM. Lapor kepada pihak bank.
Gunakan ATM yang aman lokasinya
Jangan mudah percaya dengan bantuan orang lain di lokasi sekitar ATM
MENJAGA KEAMANAN SISTEM INFORMASI DENGAN MENERAPKAN PRINSIP PRINSIP MANAJEMEN RESIKO PADA BANK
Keamanan sistem informasi berbasis IT merupakan suatu  yang harus di jaga karena merupakan asset berharga. Bank dalam mengolah dan menyimpan data akan memberi ancaman pada kemanan data tersebut, oleh sebab itu dibutuhkan sistem standart manajemen keamanan informasi yang baik.
Dengan demikian dibentuknya  peraturan penerapan menejemen resiko bagi bank umum. Dibentuknya perarturan oleh bank Indonesia. Sehingga dengan dibuatnya peraturan bank umum yang ada di Indonesia menerapkan prinsip-prinsip manajemen resiko yang dikeluarkan oleh Bank for International Settlement disebut juga dengan kesepakata Basel II
Beberapa manajemen resiko yang harus di jaga adalah resiko oprasional contohnya tidak berfungsinya proses internal pada bank, kesalahan manusia, kegagalan sistem atau adanya masalah eksternal yang mempengaruhi bank. Dengan peraturan tersebut mendorong bank umum untuk menerapkan sistem informasi dengan menganalisa serta mengontrol informasi yang ada pada sistem aplikasi. Selain menjaga, mengolah dan menganalisis data. Dibutuhkan juga pengamanan terhadap faktor eksternal yang mempengaruhi bank. Contoh dari gagalnya sistem keamanan dari bank dengan dibobolnya bank dikarenakan ketidaksetiaan pegawai bank tersebut, selain itu dengan kegagalan sistem yang berjalan akan merugikan bank itu sendiri. Oleh sebab itu bank membutuhkan system kemanan yang memiliki standart internasional.
Dalam menerapkan manajemen resiko pada Bank yang dilakukan bank :
Penerapan manajemen resiko secara umum
Penerapan manajemen resiko secara aktivitas
Dengan menerapkan manajemen resiko diatas akan mengurangi resiko pada bank.
Selain itu perlu diketahui bagi nasabah dalam menggunakan sistem informasi pada bank dengan cara online terhadap resiko yang didapat. Contohnya seberapa besar keamanan pada saat transaksi menggunakan WIFI. Lalu nasabah perlu mengetahui smartphone yang mudah di bobol oleh hacker, bagian sasaran empuk hacker pada saat mencari sasaran smartphone, dll dengan demikian dapat dihindarkan kejadian merugikan pihak bank maupun nasabah dalam transaksi
BERIKUT CONTOH KASUS
Permasalahan dunia perbankan
Keamanan data/informasi elektronik menjadi hal yang sangat penting bagi perusahaan yang menggunakan fasilitas TI dan menempatkannya sebagai infrastruktur penting. Sebab data/informasi adalah aset bagi perusahaan tersebut. Keamanan data/informasi secara langsung maupun tidak langsung dapat mempertahankan kelangsungan bisnis, mengurangi resiko, mengoptimalkan return of investment dan bahkan memberikan peluang bisnis semakin besar. Semakin banyak informasi perusahaan yang disimpan, dikelola dan digunakan secara bersama, akan semakin besar pula resiko terjadinya kerusakan, kehilangan atau tereksposnya data/informasi ke pihak lain yang tidak berhak. Ancaman dan resiko yang ditimbulkan akibat kegiatan pengelolaan dan pemeliharaan data/informasi menjadi alasan disusunnya standar system manajemen keamanan informasi.
Maka dari itu Bank Indonesia mengeluarkan peraturan penerapan manajemen resiko bagi bank umum. Tujuan dikeluarkannya peraturan ini adalah agar Bank umum di Indonesia menerapkan prinsip-prinsip manajemen risiko yang sejalan dengan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Bank for International Settlement yang dikenal dengan kesepakatan Basel II.
Secara formal, seperti yang tertulis pada penjelasan peraturan Bank Indonesia, resiko operasional adalah resiko yang antara lain disebabkan oleh adanya ketidakcukupan dan atau tidak berfungsinya proses internal, kesalahan manusia, kegagalan sistem, atau adanya problem eksternal yang mempengaruhi operasional Bank. Sehingga jelas risiko yang disebabkan oleh kegagalan sistem pengamanan informasi termasuk dalam risiko operasional. Penerapan peraturan BI merupakan tantangan tersendiri bagi bank umum di Indonesia terutama dalam kaitannya dengan manajemen pengamanan sistem informasi. Pertama belum banyak bank yang melakukan analisa resiko dalam pengadaan kontrol sistem keamanan informasi, kedua belum banyak manajemen senior yang terlibat dalam tugas pengamanan sistem informasi, ketiga ketidak siapan sistem pengawasan intern (internal audit) dalam melakukan pengawasan terhadap teknologi informasi secara umum maupun kontrol sistem pengamanan secara khusus.
Ada beberapa kejadian kriminalitas di dunia perbankan ini yang dsebabkan oleh kesalahan system pengamanan sampai ketidak setiaan pegawai terhadap peusahaan tersebut. Contohnya dengan kejadian bobolnya kas bank danamon yang diperkirakan oleh ulah orang dalam sendiri yang melibatkan bebrapa dari pihak luar bank. Kas tersebut tidak disetor tapi tercatat dalam pembukuan. Satu hal lagi yang harus digaris bawahi kurangnya pengamanan dari system kartu kredit dan kurangnya pengawasan dari bank sentral dan bank itu sendiri. Hal ini sudah menjadi banyak perbincangan masyarakat luas yang ketakutan akan memakai kartu kredit lagi. Contoh lainnya yang terjadi pada Bank Danamon ini adalah bobolnya kartu kredit salah satu nasabah, yang diperkirakan ini ulah pegawai dalam bank lagi yang pastinya mereka tau system informasi yang dipake oleh system kartu kredit ini.
Beberepa orang berpendapat tentang kurangnya pengamanan bank danamon ini contohnya dalam pengunaan kartu kredit dalam jumlah besar yang pengamananya tidak ketat sehingga membahayakan para pemakai kartu kredit dan pengamanan terhadap transaksi online. Bank Danamon seharusnya melakukan pengawasan ketat contohnya dengan melakukan pengawasan.

SISTEM INFORMASI MANAJEMEN PADA ATM BCA

PENDAHULUAN

1.      LATAR BELAKANG


Dewasa ini persaingan dibidang perbankan semakin ketat, untuk itu berbagai upaya mempermudah nasabah untuk bertransaksi perbankan ditawarkan.Salah satu fasilitas yang saat ini sedang trend adalah fasilitas Mobile Banking dan Internet Banking,melalui fasilitas ini nasabah dapat dengan mudah melakukan berbagai transaksi perbankan.
Bank BCA sebagai bank yang memiliki jaringan elektronik terbesar dan paling tersebar luas di Indonesia. Dengan jaringan kantor cabang dan ATM BCA yang terhubung secara online di seluruh Indonesia, BCA selalu siap melayani Nasabahnya. BCA bekerja sama dengan lebih dari 34,000 merchant di Indonesia di mana nasabah dapat dengan mudah dan leluasa berbelanja menggunakan fasilitas Debit BCA. Layanan Tunai BCA memungkinkan nasabah melakukan transaksi tarik tunai pada saat berbelanja. Kartu Kredit BCA (BCA Card, JCB BCA, BCA Visa, BCA Mastercard), diterima berjuta-juta merchant di seluruh dunia. Tak kalah penting, dengan menjadi nasabah BCA kita dapat menikmati layanan perbankan non-tunai dengan cepat dan mudah melalui fasilitas BCA by Phone, m-BCA (mobile banking), dan KlikBCA (Internet Banking) seolah-olah kita memiliki ATM pribadi di pesawat telepon, ponsel maupun computer kita.
2.      TUJUAN


Tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar kita mengetahui berbagai macam produk perbankan elektronik yang ada saat ini dan dapat mengembangkan ilmu pengetahuan tentang produk perbankan elekronik terutama hal yang berkaitan dengan mata kuliah yang sedang kita pelajari saat ini yaitu Sistem Informasi Manajemen.


PEMBAHASAN

1.      PRODUK PERBANKAN ELEKTRONIK BCA


A.    Klik BCA

BCA menawarkan produk perbankan elektronik berupa KlikBCA, yang memberikan Anda kemudahan untuk melakukan transaksi perbankan melalui komputer dan jaringan internet. Transaksi yang Anda dapat lakukan melalui ATM BCA, dapat dilakukan melalui KlikBCA, kecuali penarikan tunai. Dengan begini, Anda seperti memiliki ATM BCA pribadi pada PC Anda.


Hal yang dapat dilakukan dengan menggunakan Klik BCA :


Ø  Pembelian (Pulsa Isi Ulang, Saham, Tiket)
Ø   Pembayaran (Kartu Kredit, Internet, Telepon,Handphone, Pager, Pendidikan, dan Lain-lain)
Ø   Transfer Dana - Transfer Antar BCA (Real Time, berkala, tanggal tertentu)- Transfer ke Domestik Bank Lain (Real Time, tanggal tertentu)
Ø   Informasi Rekening (Informasi Saldo, Mutasi Rekening, Tagihan BCA Card)
Ø  Transaksi Histori
Ø   Administrasi (Ganti PIN, Ubah Bahasa, Ganti Alamat Email, Hapus Daftar Pembayaran, Hapus Daftar Transfer, Registrasi KeyBCA, Tambah Koneksi KeyBCA, Hapus Koneksi KeyBCA, Aktivasi KeyBCA, Registrasi Informasi BCA Card, Hapus Informasi BCA Card

B.     BCA REMITTANCE

Layanan BCA Remittance memungkinkan Kita melakukan transfer dana dalam mata uang asing dengan rekening destinasi dalam dan luar negeri, serta menerima transfer dari luar negeri ke Indonesia. Layanan Inkaso BCA memungkinkan Kita menerima cek dalam mata uang Rupiah maupun valas. BCA juga menyediakan layanan Safe Deposit untuk keamanan barang dan dokumen berharga Kita.

C.     BCA BY PHONE

BCA by Phone adalah produk perbankan elektronik yang disediakan membantu Anda untuk dapat menerima layanan informasi perbankan dan melakukan transaksi finansial non tunai melalui pesawat telepon (touch tone atau handphone). Seperti :

1.      Transfer antar rekening BCA


Ø  Pembayaran
Ø  Tagihan kartu Kredit: BCA Card, Citibank, HSBC,GE Finance, Standart Chartered, ANZ Panin dan AMEX, BNI, Permata, dan Mega
Ø  Tagihan Telepon: Telkom dan Esia
Ø  Tagihan Telepon Seluler: Telkomsel, Indosat, dan Xplor
Ø  Tagihan PLN
Ø   Tagihan PAM
Ø   Isi Ulang Pulsa: Simpati, Mentari, dan IM3 Smart
Ø   Pembelian Tiket Garuda

2.      Informasi Rekening
 
Ø  Informasi Saldo
Ø  Informasi 10 transaksi terakhir
Ø  Permintaan mutasi rekening koran melalui faksimili
Ø   Permintaan bukti transaksi BCA by phone melalui faksimili


3.       Informasi Kartu Kredit

Ø  Informasi saldo tagihan
Ø  Informasi data terakhir
Ø   Permintaan tagihan terakhir melalui faksimili


4.       Informasi Umum Perbankan


Ø  Informasi nilai tukar valuta asing
Ø  Informasi suku bunga
Ø   Informasi umum kartu kredit


5.       Menu Administrasi


Ø  Ubah PIN
Ø   Aktivasi KeyBCA
Ø   Tambah/Hapus daftar rekening penerima transfer
Ø   Layanan BCA by Phone ini terbuka untuk pemegang rekening/kartu:
Ø   BCA Prioritas
Ø  Tapres
Ø   Giro
Ø   BCA Dollar
Ø   BCA Card
Ø  Tahapan dengan Kartu Paspor Platinum
Untuk dapat menggunakan fasilitas ini, Anda harus terdaftar pada fasilitas BCA by Phone. Sebagai tambahan keamanan, BCA by Phone juga dilengkapi dengan KeyBCA. Tanpa KeyBCA, Anda tidak akan bisa melakukan transaksi finansial di BCA by Phone.

D.     SMS BCA

SMS BCA adalah layanan informasi perbankan yang dapat diakses langsung oleh Nasabah melalui telepon selular/handphone dengan menggunakan media SMS (Short Message Services).
Operator SIM Card apa saja yang bisa digunakan untuk mengakses SMS BCA? Semua SIM Card baik GSM maupun CDMA bisa digunakan : Fitur-Fitur SMS BCA
 
1.      Jenis informasi yang dapat diakses melalui SMS BCA adalah :


Ø  Info saldo,
Ø  Info mutasi dan
Ø  Info Nomor kupon undian Gebyar Hadiah Tahapan BCA


2.      Syarat Menggunakan SMS BCA

Ø  Pemegang kartu Paspor BCA (Kartu ATM BCA)
Ø  Pelanggan GSM atau CDMA
GSM :
·         Telkomsel : Kartu Halo, simPATI, AS
·         Indosat : Matrix, Mentari, IM3
·         XL : Xplor, Bebas, Jempol
·         Hutchinson : 3


CDMA :
·         StarOne
·         Flexi : Trendy, Classy
·         Esiao Fren Merupakan terobosan baru layanan perbankan yang praktis, tanpa banyak buang waktu serta user friendly. Dengan layanan ini Anda serasa memiliki ATM BCA dalam gengaman tangan Anda. Berbagai transaksi perbankan dapat anda lakukan melalui ponsel anda, semudah anda bertransaksi di ATM BCA.


3.      Operator yang sudah bekerjasama dalam layanan m-BCA ini adalah:


Ø  PT Excelcomindo Pratama,Tbk untuk pemegang kartu Xplor & bebas
Ø  PT Indosat,Tbk untuk pemegang Kartu Mentari & Matrix
Ø  PT Telekomunikasi Selular untuk pemegang kartu HALO & simPATI

E.     KARTU FLAZZ BCA

Kartu Flazz BCA merupakan alat pembayaran multifungsi tercepat pertama di Indonesia untuk kenyamanan hidup Anda. Menggunakan teknologi chip dan RFID (Radio Frequency Identification), Kartu Flazz pantas untuk disebut sebagai kartu prabayar multifungsi dengan teknologi terkini. Kartu Flazz berbeda dengan kartu kredit dan kartu debit. Bila otorisasi transaksi pembayaran kartu kredit dan debit dilakukan secara online di pusat data bank, otorisasi transaksi untuk kartu Flazz dilakukan langsung di chip di kartu Flazz itu sendiri. Pengisian ulang saldo (top up) pun mudah, cukup membawa Kartu Paspor dan Kartu Flazz ke ATM Non-tunai BCA serta merchant-merchant berlogo Flazz Isi Ulang. Minimum top up Rp 100.000, dan maksimum saldo yang dapat tersimpan di kartu maksimum Rp 1 juta.
Kartu Flazz menawarkan kecepatan, kemudahan, kepraktisan bertransaksi. Cepat, karena transaksi pembayaran diselesaikan dalam hitungan detik dengan proses kerja contactless (tidak perlu digesek seperti kartu kredit, cukup diletakkan di mesin reader). Mudah, karena tidak perlu menginput PIN. Praktis, karena tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar, juga tidak perlu menyimpan uang receh lagi. Selain itu, murah, karena tanpa biaya transaksi. Keuntungan lain, terhindar dari risiko kesalahan hitung dan uang palsu karena tidak terjadi transaksi tunai. Kemudahan bagi merchant, tidak perlu sedia uang kembalian, mempercepat layanan karena tidak perlu mengecek keaslian uang dan menghitung uang saat transaksi, pula tidak perlu menyimpan uang dalam jumlah besar.
Sekarang Kartu Flazz Anda bisa di Top Up (Isi Ulang) melalui seluruh ATM Non Tunai (ANT) BCA yang ada di JABODETABEK.



F.       PASPOR BCA

Lewat kartu Paspor BCA, BCA menawarkan suatu bentuk kenyamanan dan kemudahan hidup bagi nasabah Tabungan Tahapan BCA, Tapres, dan giro rupiah perorangan. Selain berfungsi sebagai kartu ATM BCA, kartu Paspor BCA dapat digunakan sebagai kartu Debit untuk transaksi pembayaran pada saat berbelanja tanpa harus menggunakan uang tunai di puluhan ribu merchant yang bertanda Debit BCA di seluruh Indonesia.



Ø  Keuntungan berbelanja dengan Debit BCA


·         Lebih praktis, tidak perlu membawa uang tunai untuk belanja
·         Lebih mudah, tidak perlu direpotkan dengan uang receh
·         Lebih aman, mengurangi resiko karena membawa uang banyak.
·         Kartu Paspor Anda dilindungi oleh PIN yang hanya diketahui Anda sendiri.
G.    ATM BCA

Kartu ATM BCA atau Paspor BCA menawarkan suatu bentuk kenyamanan dan kemudahan hidup yang dapat dinikmati nasabah pemilik Tabungan (Tahapan BCA, Tapres, BCA Dollar) dan Giro perorangan. Dengan Paspor BCA berbagai kegiatan perbankan baik tunai dan non-tunai dapat dilakukan di sekitar 6.000 ATM BCA. yang tersebar di seluruh Indonesia. ATM BCA memiliki jaringan terluas di Indonesia dan bersifat realtime online sehingga layanan ATM BCA dapat diakses kapan saja 24 jam sehari 7 hari seminggu. Selain itu ATM BCA juga berfungsi sebagai kartu Debit BCA dan Tunai BCA yang dapat digunakan untuk berbelanja dan tarik tunai di merchant yang bertanda Debit BCA dan Tunai BCA.
Jenis-Jenis Automatic Teller Machine BCA / ATM BCA
ATM BCA kini semakin efisien. Untuk memudahkan nasabah dalam melakukan transaksi perbankan dan untuk menghindari antrian panjang, sekarang terdapat beberapa jenis ATM BCA di antaranya:


1.       ATM BCA Multifungsi


ATM BCA multi fungsi adalah ATM BCA untuk bebagai transaksi perbankan baik tunai maupun non-tunai :


Ø  Tarik Tunai
Ø  Transfer antar rekening BCA
Ø  Transfer antar bank secara real time online
Ø  Transaksi pembayaran*: Telepon, Telepon Selular/Genggam, PLN, Kartu Kredit, Pendidikan, Internet, angsuran pembiayaan, PBB (Pajak Bumi dan Bangunan), PAM (Perusahaan Air Minum), Asuransi, TV Kabel dan lain-lain. Fasilitas ini hanya berlaku untuk pemilik rekening dalam mata uang Rupiah.
Ø  Informasi Saldo
Ø   Isi Pulsa*: Simpati, Bebas, Mentari, IM3 Smart, StarOne, dan lain-lain
Ø  Informasi Kurs: USD dan SGD
Ø  Pembelian: Pembelian Tiket Garuda Indonesia, Reksadana, dan Saham
Ø   Ubah Pin
Ø  Registrasi: Internet Banking klikBCA, Mobile Banking m-BCA, dan Isi Ulang Pulsa via SMS
Ø  khusus untuk rekening IDR


2.      ATM  Tarik Tunai


ATM BCA Tunai adalah ATM BCA yang disediakan khusus untuk transaksi penarikan uang tunai.

3.      ATM  NON-Tunai


ATM non-Tunai adalah ATM yang disediakan khusus untuk transaksi perbankan non-Tunai. ATM non-Tunai memiliki semua fitur yang terdapat pada ATM multifungsi kecuali untuk transaksi tarik tunai.

4.       ATM Setoran Tunai atau Cash Deposit Machine

ATM  Setoran Tunai adalah ATM  yang disediakan khusus untuk transaksi setor tunai bebas bea baik ke rekening sendiri maupun ke rekening nasabah lain sampai Rp. 5 juta per hari. Transaksi langsung masuk saat itu juga. Setoran tunai Anda dapat dalam pecahan Rp, 20.000, Rp. 50,000 ataupun Rp. 100.000. Jadi sekarang Anda dapat melakukan transaksi penyetoran kapan saja tanpa harus antri di teller dan mengisi form setoran.

5.      Jaringan ATM Prima

Jaringan ATM  yang tersebar luas di Indonesia menjadi semakin luas lewat jaringan ATM Prima. Pemegang kartu Paspor sekarang dapat melakukan transaksi TARIK TUNAI dan CEK SALDO di ATM-ATM yang berlogo PRIMA seperti ATM Bank Permata, Bank NISP, Bank BRI, Bank Bukopin, dan Bank Sumsel.

6.       Kartu ATM  (Paspor ATM\BANK)

Segudang manfaat dan keuntungan memiliki Paspor / Kartu ATM.
Penarikan Tunai

H.     PENGAMANAN

1.      Sistem Pengamanan


BCA menggunakan 3 (tiga) lapis sistem pengamanan untuk melindungi akses dan transaksi Anda di internet banking BCA yaitu :


·         Secure Socket Layer (“SSL”) SSL adalah teknologi pengamanan yang ‘mengacak’ jalur komunikasi antar komputer sehingga tidak dapat dibaca oleh pihak lain.
·          User ID dan Personal Identification Number (“PIN”)
·         One Time Password yang dihasilkan oleh KeyBCA One-time Password adalah teknologi pengamanan yang selalu menghasilkan password yang berbeda setiap kali alat/token pengamannya digunakan.
Karena banyaknya variasi browser internet yang ada, sulit untuk menyediakan internet banking yang mengikuti keamanan masing-masing browser. Saat ini BCA hanya menyediakan sarana internet banking yang lebih cocok diakses dengan menggunakan Microsoft Internet Explorer versi 6 atau yang terbaru. BCA mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.
                                                         
2.      Proteksi Komunikasi Internet Banking BCA


BCA menggunakan teknologi enkripsi Secure Socket Layer (SSL) 128 bit untuk memproteksi komunikasi antara komputer Anda dan server BCA selama Anda mengakses internet banking BCA.

3.      Proteksi Akses Internet Banking BCA


BCA mewajibkan Anda untuk memasukkan User ID dan PIN sebelum Anda dapat melakukan akses ke internet banking BCA.

4.      KeyBCA dan Proteksi KeyBCA


BCA mewajibkan Anda menggunakan security token yang dinamakan KeyBCA untuk menghasilkan One Time Password yang digunakan untuk mengotentikasi setiap transaksi finansial Anda dan sebagai tanda persetujuan Anda terhadap transaksi yang dilakukan.
Anda harus memasukkan One Time Password yang dihasilkan oleh KeyBCA jika Anda melakukan transaksi finansial seperti : transfer dana, pembelian dan pembayaran dan transaksi non finansial seperti : aktivasi KeyBCA, tambah koneksi, hapus koneksi dan registrasi inquiry tagihan kartu kredit BCA
Transaksi yang dapat dilakukan tanpa menggunakan KeyBCA adalah : informasi rekening, status transaksi, history transaksi, administrasi dan email
Untuk memastikan proteksi bagi KeyBCA Anda, mohon lakukan hal-hal sebagai berikut :


·         KeyBCA Anda diamankan dengan PINnya sendiri.
·         Gantilah PIN KeyBCA Anda segera setelah Anda menerima KeyBCA, dan gantilah PIN KeyBCA secara periodik atau jika Anda tidak yakin terhadap kerahasiaan PIN Anda.
·         Jangan menggunakan PIN yang mudah diterka seperti: 111111, 222222, 123456, 654321, tanggal lahir, nomor mobil, alamat dan lain-lain. Jangan menuliskan PIN Anda di tempat dimana orang lain dapat membacanya.
·         Jangan meminjamkan KeyBCA Anda kepada orang lain.
·         Jagalah kerahasiaan PIN KeyBCA Anda, jangan diberitahukan kepada orang lain.
·         Jangan memberitahukan PIN atau sebagian dari PIN KeyBCA Anda kepada orang lain, walaupun orang tersebut mengaku sebagai karyawan BCA. BCA tidak pernah menanyakan PIN KeyBCA Anda.
·          Hubungi Halo BCA jika KeyBCA Anda hilang, rusak atau terblokir. Ikuti instruksi mereka bagaimana mendapatkan KeyBCA baru atau mengaktifkan KeyBCA Anda kembali.
·         Cara menggunakan KeyBCA dapat dilihat pada petunjuk yang disertakan dengan KeyBCA yang Anda terima.

Posted on November 11, 2013
Sistem informasi berbasis IT merupakan kebutuhan primer di era modern apa lagi sudah menjadi kebutuhan yang harus di penuhi pada perusahaan-perusahaan. Dengan informasi yang begitu banyak, dibutuhkan sistem informasi menejemen yang terstruktur dengan baik dan diolah dengan profesional. Diperlukan sistem yang baik dalam mengolah informasi pada suatu organisasi informasi dan bank. Karena pengolahan informasi sangat mempengaruhi hasil kerja, kemampuan dan efisiensi perusahaan atau bank. Dengan demikian munculnya menejemen resiko informasi yang merupakan sesuatu yang harus di hindarkan atau di jaga agar resiko yang menyebabkan kerugian dapat terhindar.
Keamanan sistem informasi pada bank merupakan hal yang utama. Dikarenakan informasi nasabah. Adalah informasi yanh harus dilindungi bank dari penjahat. Apabila sistem informasi di kuasai oleh penjahat tersebut maka bank akan mengalami ancaman kebangkrutan serta merugikan nasabah. Pada bank, penjahat/hacker terdapat sasaran yang dapat mengancam bank dan menjadi sebuah resiko menejemen resiko, yaitu : data, sistem aplikasi, pengetahuan teknologi, fasilitas yang dimiliki bank, nasabah..
RESIKO DATA
Data merupakan sasaran utama yang dimanfaatkan pelaku kejahatan/hacker untuk mendapatkan informasi mengenai nasabah. Oleh sebab itu pelindungan data sangat di butuhkan oleh bank dengan cara enkripsi–enkripsi data tersebut.misalnya pada ATM dimana pejahat melakukan penyadapan nomor PIN dengan cara mengakses data yang sudah disimpan sebelumnya pada mesin ATM dan sebelum itu melakukan pembobolan terhadap server yang tersambung dengan komputer mesin ATM,
RESIKO NASABAH
Pihak bank juga perlu memberi informasi mengenai cara agar tabungan nasabah tidak di bobol oleh penjahat. Seperti:
- Menjaga kerahasiaan PIN
- Memperhatikan Kondisi fisik ATM
- Menggunakan kartu ATM pada merchant yang bekerja sama dengan pihak perbangkan.
- Apabila terjadi alat yang mencurigakan yang tersambung kepada ATM. Lapor kepada pihak bank.
- Gunakan ATM yang aman lokasinya
- Jangan mudah percaya dengan bantuan orang lain di lokasi sekitar ATM
MENJAGA KEAMANAN SISTEM INFORMASI
Keamanan sistem informasi berbasis IT merupakan suatu yang harus di jaga karena merupakan asset berharga. Bank dalam mengolah dan menyimpan data akan memberi ancaman pada kemanan data tersebut, oleh sebab itu dibutuhkan sistem standart manajemen keamanan informasi yang baik.
Beberapa manajemen resiko yang harus di jaga adalah resiko oprasional contohnya tidak berfungsinya proses internal pada bank, kesalahan manusia, kegagalan sistem atau adanya masalah eksternal yang mempengaruhi bank. Dengan peraturan tersebut mendorong bank umum untuk menerapkan sistem informasi dengan menganalisa serta mengontrol informasi yang ada pada sistem aplikasi. Selain menjaga, mengolah dan menganalisis data. Dibutuhkan juga pengamanan terhadap faktor eksternal yang mempengaruhi bank.
Dalam menerapkan manajemen resiko pada Bank yang dilakukan bank :
- Penerapan manajemen resiko secara umum
- Penerapan manajemen resiko secara aktivitas
Dengan menerapkan manajemen resiko diatas akan mengurangi resiko pada bank.
Selain itu perlu diketahui bagi nasabah dalam menggunakan sistem informasi pada bank dengan cara online terhadap resiko yang didapat.
SISTEM KEAMANAN PADA BANK DAN MESIN ATM
Persoalan-persoalan yang mungkin dapat timbul dalam bertransaksi secara elektronik ialah:
1 Kemanan pada lingkungan sistem
Keamanan pada lingkungan sistem merupakan keamanan data pada server Internet Banking dan server back-end dari sistem Internet Banking. Tanpa keamanan data yang tepat memungkinkan terjadi risiko seperti:
- Network Packet Sniffer. Seorang penyerang telah membobol informasi rekening nasabah yang sedang dijalankan network. Kemungkinan yang terburuk dapat mengakses semua rekening nasabah dan dapat membuat rekening ilegal melalui ”backdoor” ke dalam network bank. Selanjutnya, informasi packet-sniffers provides tentang jaringan network bank, dapat dijadikan sasaran penyerang untuk mengirim network packet yang didistribusikan melewati network milik bank.
- IP Spoofing. Ini dapat digunakan untuk mengakses informasi rekening nasabah dengan berbagai cara. Biasanya lewat fasilitas email web site Internet Banking.
- Denial of Service Attacks. Dengan cara tersebut bertujuan mengacaukan setiap akses atau informasi di dalam network. Para penyerang memfokuskan diri untuk dapat membuat pelayanan tidak sesuai dengan biasanya.
Solusinya ialah menggunakan teknologi Firewall. Firewall dapat diimplementasikan dengan software atau hardware atau bahkan keduanya. Firewall selalu digunakan untuk mencegah seseorang atau program yang tak diundang.
2. Keamanan data nasabah
pada persoalan ini akan dikonsentrasikan mengenai keamanan antara browser yang terdapat informasi nasabah ke web server milik bank. Ketika terjadi koneksi antara browser dan web server mempunyai risiko seperti Network Packet Sniffing. Sebuah kegiatan network protocol, bagaimana sebuah paket diberi label dan diidentifikasi.
Sehingga komputer dapat menentukkan apakah paket tersebut telah diidentifikasi dengan benar. Karena spesifikasi dari network protocols seperti TCP/IP telah digunakan secara luas, sebuah program tertentu dapat dengan mudah mencegah network packets dan mengubahnya menjadi sniffer.
Solusi untuk persoalan ini yakni keamanan antara browser milik nasabah dengan web server dapat ditangkal dengan keamanan protocol yang disebut dengan Secure Socket Layer (SSL). SSL terdiri dari encryption, server authentification dan messege integrity dalam berkoneksi dengan Internet.
3. Pengamanan dari pihak ketiga
Persoalan yang satu Ini yang tidak kalah penting yaitu untuk memantau atau mencegah orang-orang yang tidak diundang. Solusinya, dengan menganalisa sistem keamanan secara terus-menerus dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang timbul.
Berawal dari kasus penjebolan mesin ATM di bank-bank. Nasabah tiba-tiba kehilangan uang tanpa melakukan transaksi. Penjebolan ATM sebenarnya sudah lama terjadi, tidak hanya di Indonesia tapi juga di seluruh dunia. Bank-Bank di seluruh dunia terus berusaha menanggulangi kejahatan seperti ini. Yang jelas sistem keamanan harus bisa melampaui kelihaian para kriminal. Saat ini ada krisis kepercayaan nasabah dan bank-bank di Indonesia
Sistemik
Masalah yang sering terjadi pada pembobolan bank. Pertama adalah kurang diurusnya sistem perbankan. Dengan adanya kejadian seperti ini, inilah saatnya otoritas mengurus sistemik itu. Ini disebut sistemik real, karena kalau bank saja tidak dipercaya masyarakat krisis akan berlanjut ke masalah krisis perbankan seperti yang ditakutkan sekarang ini. Seharusnya sekarang sudah ada pernyataan dari pemerintah atau Lembaga Penjamin Simpanan, bahwa masyarakat harus tenang, jika uang hilang karena pembobolan, pasti akan dijamin dananya kembali.
Infrastruktur
Dunia perbankan harus memperkuat infrastrukturnya. Jika melihat banyaknya kejadian seperti pembobolan ATM, perbankan sebaiknya segera dilakukan audit sistem teknologi yang diterapkan seluruh perbankan. Kartu ATM yang ada saat ini masih belum cukup aman dari penggandaan kode rahasia.
Jika ingin lebih aman, seharusnya digunakan chip dalam kartu. Namun untuk menambahkan chip dalam kartu dibutuhkan dana yang besar, karena harganya mahal. Namun jika bank-bank Indonesia lebih peduli keamanan nasabah dari pada biaya produksi kartu dan strategi pemasaran luas, maka seharusnya kartu ATM bisa dibuat dengan sistem pengamanan yang lebih memadai.
Yang sering dilakukan para pembobol ATM ini adalah dengan teknik skimming atau pencurian data magnetic stripe kartu ATM yang dikombinasikan dengan PIN capture (pengintipan personal identity number). Pelaku menyiapkan satu set alat skimmer yang dipasang di mulut ATM untuk mengopi data kartu ATM..Jadi, ini bukan cyber crime, tetapi lebih ke physical crime. Pelaku tidak perlu mengerti TI. Kalau cyber crime sudah menyentuh sistem, sedangkan pelaku pada kasus pembobolan ATM tidak menyentuh sistem, skimmer berada di luar (sistem).
Apa pun bentuk kejahatannya, tentu saja kondisi itu cukup mengkhawatirkan, karena bisa menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap masalah keamanan (security) perbankan nasional.
Salah satu bank yang cukup masif dalam pemanfaatan teknologi informasi adalah BCA. Sistem pengamanan transaksi melalui ATM di BCA sudah sesuai dengan standar perbankan internasional, yaitu dengan menggunakan kartu magnetik dan PIN. Karena itu, kartu ATM BCA dapat digunakan di mesin ATM bank lain, termasuk di luar negeri. Adapun pada Internet banking, BCA merupakan salah satu pelopor penggunaan dynamic password dengan KeyBCA (token) sejak 2002.Pada saat sebagian besar bank-bank lain di dunia masih menggunakan password statis untuk sistem Internet banking, BCA telah menggunakan dynamic password.
Selain masalah PIN yang bisa diintip, pembobolan dana nasabah melalui ATM juga dimungkinkan karena sarananya (kartu) yang bisa dibobol. Suatu transaksi melalui kartu tidak bisa mengandalkan teknologi magnetik. Sebab, kelemahan menggunakan teknologi magnetik ini datanya bisa dikopi.PIN dari (pihak) bank tidak bisa diambil (dicuri informasinya). Tetapi kalau diambil dengan video (candid camera) tentu bisa.
Dalam sistem keamanan perbankan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu celah keamanan, ancaman dan solusi. Untuk ATM, celah keamanannya yaitu kartu ATM yang masih magnetik sehingga mudah dikopi datanya. Adapun ancamannya: skimmer yang dipasang di ATM. Dengan begitu, solusi sederhananya adalah minimal memasang anti-skimming sebagai antisipasi untuk menghindari kejahatan ATM.
Posisi perusahaannya lebih sebagai perantara/intermediasi yang melaksanakan pengelolaan jaringan transaksi elektronik antar-anggota (bank peserta) dan penyelesaian transaksinya.Jadi adanya pembobolan uang melalui ATM, itu terjadi di ranah operasional, bukan di ranah sistem. Sebab, secara system sama sekali tidak ada kebocoran.
Siklus transaksi melalui Prima EFT Switching sebagai prinsipal meliputi lima tahap. Pertama, kartu ATM milik Bank Peserta Prima A (issuing bank) digunakan di mesin ATM milik Bank Peserta Prima B (acquiring bank). Kedua, acquiring bank akan memverifikasi BIN (bank identification number). Ketiga, dari BIN tersebut acquiring bank selanjutnya mengidentifikasi ke mana mereka harus mengarahkan transaksi tersebut. Keempat, data yang diterima dari acquiring bank oleh Prima akan diverifikasi dan diteruskan ke issuing bank untuk mendapatkan approval dan authorization. Kelima, approval dan authorization dari issuing bank dikirim ke Prima dan selanjutnya diteruskan ke acquiring bank. Jadi, semuanya sangat aman karena dalam keadaan terenkripsi.
Prima selalu menekankan aspek security. Dari segi infrastruktur jaringan komunikasi, jaringan yang menghubungkan host Prima dengan issuing dan acquiring bank menggunakan jaringan private yang tertutup. Data PIN yang dikirim juga dalam keadaan terenkripsi. Sementara indentifikasi dan otorisasi transaksi nasabah tetap dilaksanakan issuing bank dan setiap bank peserta diwajibkan menggunakan sistem pengamanan dari Prima, regulator, dan international benchmarking, seperti firewall dan hardware security module (HSM). Termasuk, melakukan uji coba dengan bank peserta sebelum menjalankan fitur transaksi Prima.
Selain harus mengganti kartu, semua ATM pun harus dilengkapi chip card reader yang harganya minimum US$ 400. Padahal, di Indonesia ada lebih dari 30 ribu ATM. Jadi, untuk ATM pun butuh investasi sekitar Rp 1 trilun. Selain butuh biaya yang besar, konversi dari magnetic stripe ke chip card ini pun butuh waktu yang lama. Ketika kartu kredit diwajibkan menggunakan chip card butuh waktu tiga tahun, dengan jumlah kartu sekitar 12 juta.
Jika fasilitas transaksi perbankan seperti ATM yang sekarang sudah menjadi bagian dari hajat hidup orang banyak terjamin keamanannya, nasabah pun bisa kembali tenang.
Kesimpulan
Dalam melakukan transaksi harus berhati-hati. Misalnya, melihat apakah ada mesin skimmer, atau kamera tersembunyi, termasuk dalam menjaga kerahasiaan PIN. Selain itu, diupayakan bisa melakukan transaksi di ATM yang ada di dalam bank, atau paling tidak di tempat keramaian. Regulator, dalam hal ini BI harus sudah menerapkan aturan di mana ada waktunya pihak bank untuk diaudit sistem keamanannya, sesuai dengan standar internasional. Regulator harus meningkatkan kontrol dan menjaga hasil audit, jangan sampai bocor. Jika fasilitas transaksi perbankan seperti ATM yang sekarang sudah menjadi bagian dari hajat hidup orang banyak terjamin keamanannya, nasabah bisa kembali tenang.
Solusi Meningkatkan Keamanan Transaksi Perbankan
1.Pihak Bank :
a) Melengkapi ATM dengan pengaman tambahan seperti anti-skimmer dan kamera CCTV.
b) Mengganti teknologi kartu dari magnetic stripe ke chip card.
c) Memeriksa mesin ATM secara berkala, terutama adanya pemasangan alat-alat penyadap PIN.
d) Meningkatkan monitoring terhadap transaksi-transaksi yang mencurigakan.
e) Mengaudit system keamanan secara rutin.
f) Mengedukasi pada nasabah akan pentingnya menjaga keamanan PIN.
2. Pihak Nasabah :
a) Selalu waspada ketika bertransaksi di ATM
b) Selalu menjaga kerahasiaan nomor PIN
c) Bertransaksi di ATM yang ada di dalam cabang bank.
d) Secara berkala, misalnya 2-3 bulan sekali, mengganti PIN.
e) Memindahkan cara transaksi ke Internet banking yang menggunakan token, yang jelas lebih aman.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar